Drama proklamasi kemerdekaan RI

Kemerdekaan Indonesia
BABAK I
Setelah mengetahui kekalahan Jepang dari siaran radio BBC. Para pemuda menemui Ir. Soekarno dan Moh.Hatta dirumahnya jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta untuk mendesak Ir. Soekarno dan Moh.Hatta agar mengumumkan kemerdekaan saat itu juga. Dengan Sultan Syahrir sebagai juru bicara.
Sultan Syahrir : “Bung Karno!! Jepang sudah kalah, seharusnya kita cepat memproklamasikan kemerdekaan.”
Ir. Soekarno : “Kita tidak bisa begitu saja memproklamasikan kemerdekaan. Kita harus membicarakan dalam rapat PPKI.”
Sultan Syahrir : “Kita tidak mungkin membicarakannya dalam rapat PPKI, karena PPKI dibentuk oleh Jepang dan kemerdekaan Indonesia haruslah dari usaha rakyat Indonesia bukan pemberian bangsa lain.”
Moh.Hatta : “Bukan begitu, kita memang seharusnya membicarakannya dalam rapat PPKI. Karena PPKI adalah badan yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan.”
Dengan demikian usaha para pemuda dengan juru bicara Sutan Syahrir untuk membujuk Ir. Soekarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan mengalami kegagalan.
Setelah mengalami kegagalan membujuk Bung Karno maka para pemuda kembali mengadakan rapat dengan Chairul Shaleh sebagai pemimpin.
ChairulShaleh : “Bagaimana sekarang, kita harus cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan!!”
Wikana : “Anda benar!! Bila kita tidak cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan, ditakutkan sekutu akan menyerang Indonesia dan Indonesia tidak akan segera merdeka.”
Sudiro : “Selain itu dari Jepang tidak ada kepastian kemerdekaan.”
B. M. Diah : “Memang sebaiknya kita segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu Jepang. Lagipula kemerdekaan haruslah karena kerja keras rakyat Indonesia.”
ChairulShaleh : “Anda semua benar namun kita tetap harus membicarakannya pada Ir. Soekarno!!”
Sudiro : “Kalau begitu kita harus kembali membujuk Bung Karno dan Bung Hatta!!”
ChairulShaleh : “Baiklah rapat kali ini kita cukupkan dulu dan hasilnya akan disampaikan pada Bung Karno oleh Darwis dan Wikana.”
Hasil keputusan rapat disampaikan kepada Bung Karno oleh Darwis dan Wikana.
Wikana : “Bagaimana bila proklamasi kemerdekaan Indonesia, dinyatakan oleh Bung Karno keesokan harinya 16 Agustus.”
Darwis : “Kami mengancam jika keinginan kami tidak dilaksanakan maka akan terjadi pertumpahan darah!!”
Bung Karno : “Maksudnya apa?? Saya sebagai ketua PPKI harus tetap membicarakan dengan anggota PPKI yang lain!!”
Moh.Hatta : “Bung Karnobenar!! Kita tetap harus membicarakan dengan anggota PPKI yang lain, yaitu badan yang bertugas mempersiapakan kemerdekaan.”
Suasana tegang antara Darwis dan Wikana. Tampak perbedaan pendapat antara golongan tua yang menghendaki rapat PPKI terlebih dahulu. Sementara itu pemuda bersih keras menyatakan bahwa proklamasi harus dilaksan akan pada tanggal 16 Agustus 1945.
BABAK II
Setelah mendapat penolakan kembali dari Bung Karo dan Bung Hatta. Para Pemuda kembali mengadakan pertemuan.
Yusuf Karto : “Bagaimana ini? Dari golongan tua tidak ada yang menyetujui usul kita?”
Sukarni : “Bagaimana kita culik Pak Karno dan kawan-kawan!”
B.M. Diah : “Untuk apa kita culik mereka? Harusnya dia yang merupakan Ketua PPKI, kita hormati.”
Sayuti Melik : “Aku setuju untuk menculik Bung Karno dan kawan-kawan.”
Darwis : “Kenapa kamu setuju saja lagi pula apa tujuannya menculik Bung Karno”
Sukarni : “tenang dulu, maksudnya adalah untuk mendesak Bung Karno dan agar Bung Karno tidak terpengaruh oleh Jepang”
Sukarni : “Baiklah, telah diputuskan! Kita akan menculik Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Ibu Fatmawati. Namun, dimana tempat teraman?”
Sultan Syahrir : “Bagaimana bila di Rengas Dengklok! Lagipula letak geografis Rengas Dengklok sangat tepat dan bila tentara Jepang akan kesana mudah diketahui oleh Tentara Peta.
Setelah rapat usai akhirnya diputuskan, para pemuda akan menculik Ir. Soekarno dan kawan-kawan.
BABAK III
Keesokan harinya tepat dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Drs. Moh Hatta, Ir. Soekarno beserta Ibu Fatmawati dan guntur Soekarno Putra dibawa oleh Pemuda ke Rengas dengklok.
Drs. Moch. Hatta : “Ada apa ini! Apa maksudnya kami dibawa kesini?”
B.M. Diah : “Maksud kami agar Bapak segera memproklamasikan Kemerdekaan.”
Ir. Soekarno : “Saya sudah mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia harus dibicarakan dalam siding PPKI terlebih dahulu”
Drs. Moh. Hatta : “Bapak benar, karna persiapan kemerdekaan adalah tugas PPKI”
Ibu Fatmawati : “Lagipula Bapak kan Ketua PPKI. Bapak tidak mungkin mengambil keputusan tanpa memberikan anggota PPKI yang lain”
Sementara terjadi perdebatan di Rengas Dengklok. Di Jakarta Wikana (golongan muda) dan Mr. Ahmad Soebardjo (golongan tua) melakukan perundingan.
Wikana : “Bagaimana ini Bapak. Pak Karno tetap bersikukuh untuk membicarakan terlebih dahulu Kemerdekaan Indonesia dalam sidang PPKI.
Mr. Ahmad Soebardjo : “Iya, Saya tahu maksud anda, dan maksud golongan muda bahwa PPKI itu dibentuk oleh Jepang.
Wikana : “Justru itu Kemerdekaan Indonesia haruslah berdasarkan perjuangan bangsa bukan Pemberian Jepang”
Mr. Ahmad Soebardjo : “Saya paham dan mengerti. Sebenarnya saya juga setuju kemerdekaan segera dilaksanakan.”
Wikana : “Bagaimana bila Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan di Jakarta”
Setelah mendapat beberapa kesepakatan. Diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengas Dengklok.
Yusuf Kunto : “Mari Pak saya antar ke Rengas Dengklok
Mr. Ahmad Soebardjo : “Ayo kita segera kesana, saya rasa disana pasti terjadi perdebatan yang sengit”
Yusuf Kunto : “Mari Pak kita segera berangkat”
Setelah sampai disana Mr. Ahmad Soebardjo, akhirnya menjemput Ir. Soekarno dan kawan-kawan. Selain itu Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan.
BABAK IV
Sekitar pukul 23.00 romobongan Ir. Soekarno sampai di Jakarta untuk sesaat pulang ke tempat masing-masing, lalu langsung menuju rumah Laksamana Maeda untuk merumuskan naskah proklamasi
Laksamana Meda : “Silahkan masuk, Bapak-bapak!”
Dr. Moch. Hatta : “Tunggu dulu, Bagaimana mungkin kita akan merumuskan suatu teks proklamasi di rumah seorang Laksamana Jepang”
Laksamana Maeda : “Tenanglah, silahkan masuk semua, saya menjamin selama berada di rumah saya, anda sekalian akan terjamin keselamatannya”
Ir. Soekarno : “Baikalah, diruangan mana kita dapat merumuskannya”
Laksamana Maeda : “Silahkan anda berdiskusi di ruang makan”
Dengan memegang kertas dan bolpoin, perundingan yang ditaklukkan antara golongan muda dan golongan tua itu berjalan lancar.
Achmad Soebardjo : “ Bagaimana kalau kita mengambil rumusan BPUPKI dengan bunyi “kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia
Ir. Soekarno : “Itu boleh juga.”
Drs. Moch Hatta : “menurut saya perlu ada pernyataan pengalihan kekuasaan seperti ini. Hal-hal mengenai pemondahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.
Ir. Soekarno : “Bagaimana bila naskah ini ditanda tangani oleh seluruh yang hadir pada saat ini.”
B.M. Diah : “Bila seperti itu akan ada banyak tanda tangan.”
Sukarni : “Bagaimana bila Pak Karno saja yang menanda tangani.”
Sudiro : “dengan Pak Hatta juga”
Sayuti Melik : “Begini saja, lebih baik Pak Karno dan Pak Hatta yang menanda tangani dengan atas nama bangsa Indonesia”
Ir. Soekarno : “Ide kamu bagus, saya setuju”
Sayuti Melik : “Bagaimana jika naskah ini diketik oleh saya. Tapi harus ada beberapa perubahan, seperti wakil-wakil bangsa Indonesia diganti atas nama Bangsa Indonesia, dan Jakarta 17-8-‘05 diganti menjadi hari 17 bulan 8 tahun ‘05 dan juga tdmpoh menjadi tempo.”
Lalu Sayuti Melik mengetik naskah tersebut dan memberikan hasil ketikan tersebut kepada Ir. Soekarno untuk ditanda tangani, perumusan tersebut selesai pada dini hari 17 Agustus 1945.
Setelah selesai diketik, hari itu juga tepatnya hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan di lapangan ikada, namun karena alasan keamanan maka dipindah di kediaman Ir. Soekarno, terjadi sedikit perbincangan diantara Soekarno, Fatmawati, Latief Hendraningrat, dan S. Suhud.
S. Suhud : “Pak, kita membutuhkan bendera merah putih untuk dikibarkan sebagai tanda merdeka suatu bangsa”
Ir. Soekarno : “Iya, saya tahu, maka saya sudah meminta istri saya untuk menjahitnya”
Fatmawati : “Iya, ini sudah saya jahitkan”,/span>
Latief : “Terima kasih ya Bu!”
Pada tanggal 17 agustus 1945 di kediaman Ir. Soekarno, persiapan proklamasi dilakukan oleh sudiro yang menyiapkan microphone sebagai tangan kanan soekarno. Tepat pukul 10.00 WIB, Ir. Soekarno membcakan teks proklamasi selanjutnya dengan pengibaran Merah Putih oleh S. Suhud dan Latief Hendraningrat yang diiringi lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan sambutan walikota Suwirjo danpimpinan barisan pelopor dr. Muwardi.
Ir. Soekarno : “
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll, diselenggarakan dengan Tjara Saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahun ‘05
Atas nama Bangsa Indonesia,
Soekarno - Hatta
Berita proklamasi menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru Jakarta. Setelah itu teks sampai ke tangan kepala bagian radio Domei, Waidan B. Dan memerintahkan F. Wuz (markonis) untuk menyiarkannya.
Sekian.......

THANKS TO ANAK 8C, SMPN 2 PROBOLINGGO

1 komentar: